Hidup untuk apa?
Terlahir dari alur kehidupan, berakar dari keseharian…
Tak bisa kita pesan, tak bisa kita elakan, kita hadir dalam dunia ini..
Alam semesta adalah umbaran tak terbatas, pandang setiap arah disitu segalanya tercurah.
Besar dan kecil, baik dan tidak, dan warna-warna lain dalam hidup.
Duka dan suka dihadirkan guna mengisi waktu dalam hidup,..
Hidup, berarti bergerak dan berubah.
Kita, aku kamu dia dan mereka adalah makhluk hidup, diantara sekian banyak makhluk hidup.
Di bekali akal dan fikir untuk menyeimbangkan.
Sebab akibat sudah jadi interaksi. Makan karena lapar, minum karena haus, itu hanya contoh soal kembali pada titik awal saat kita di lahirkan telanjang…!!!
Tak sehelai bersandang, satu simbol karena memang hidup harus di isi.
Sampai saat kita mulai bisa berfikir….!
Hidup untuk apa? Otakku yang bodoh coba menerka…!
Hidup untuk mencari…!
Hidup untuk mendapatkan…!
Hidup untuk menunjukan…!
- Untuk mencari, Mencari Arti Hidup. Karena Hidup Energi Kehidupan, dan Kehidupan Butuh Penghidupan sebagai Kelangsungan Hidup.
- Untuk mendapatkan, Mendapatkan Kepastian Hidup. Karena tanpa kepastian hidup hanyalah langkah dan penantian yang sia-sia. Terbengkalai, tak berguna.
- Untuk menunjukan, Menunjukan Bahwa Kita Punya Hati dan Akal Fikiran. Dengan hati kita akan lebih peka untuk merasakan dalam hidup pada keseharian dalam cita dan cinta, dengan akal fikiran kita mampu mencari solusi dari setiap permasalahan. Hati dan akal fikiran seperti ruang Yang tanpa batas untuk mengenal Siapa Kita, Siapa Tuhan.
Keseimbangan akan tercipta jika kita ikut aturan yang sudah menjadi ketentuan, dalam kehidupan, berbangsa dan beragama karena aturan yang menggerakan keteraturan. Kiprah kita sebagai manusia yang menjadi makhluk Tuhan akan jelas terasa.
masih smangat yang dulu, masih orang yang dulu…..
kabar berita yang baru, cerita hari yang belum berlalu..
dimana suara merdu yang dulu teramat akrab ku dengar..
kukira mati, ternyata pergi…
tetap belum berganti… belum ku ganti
tetap.
Keberadaan, dia rasa menyebalkan
Sekarang dia mendambakan tentang sebuah hal
yang selalu dia jadikan mainan
Yang mengganggu dirinya sendiri ke titik berang
Dan dia tidak dapat membunuh semua hal yang dia benci
Untuk kesungguhan rasa sakit yang dia sisakan
Dan sial Katanya
Dia mencoba membuat semua masuk akal tapi dia tidak bisa …
Melepaskan kebencian yang membawanya terpisah …

Di dalam, Dia bersembunyi di balik tawa itu
Tawa yang kosong tanpa arti
Tapi semakin dia berlari, hatinya berdetak lebih cepat
Seorang guru kehancuran diri
Berbohong pada diri sendiri
Berpura-pura bahwa Dia orang lain
Karena dia sudah bosan menjadi dirinya sendiri
Seperti kesepian, dan sedikit keanehan
Tapi itu adalah siapa dan identitasnya
Keberadaan, seperti menyeret
walaupun dia berusaha menghibur dirinya
sekali lagi dengan tawa kosongnya
Tidak benar-benar dibuat untukku
terkadang aku melihat dirinya sedih di balik cermin
apa kuasaku sekarang, menolongnya?
mungkin…
meskipun begitu terkadang aku merindukannya…
mungkin terlalu banyak kenangan terukir
sehingga membuat hal ini susah dilupakan…
Aku tidak pernah berhenti untuk mewujudkan
Dan tak terbayangkan diriku akan kesepian
aku tidak pernah berpikir hari itu akan datang
Bila kamu sudah bosan tentang aku
Suaramu tidak pernah manis
Daripada hari Dirimu mengucapkan selamat tinggal
Dirimu tidak akan pernah tahu betapa sakitnya
Karena aku terlalu besar untuk menangis
Jika aku tahu apa yang kuketahui sekarang
Dirimu pasti masih menciumku
Sebaliknya ada bibir orang lain
Dimana dulu aku berada
Aku menyapa dan berharap dirimu juga
Setiap kali aku berlalu begitu saja
Tapi kau tidak akan pernah tahu berapa banyak sakit yg kuderita
Karena aku terlalu besar untuk menangis
Aku tidak pernah tampak begitu indah
Saat hari dimana kamu berjalan pergi
aku sering berkata, “Aku mencintaimu”
Tapi itu aku tidak bisa mengatakannya lagi
Aku tidak bisa melupakan dirimu ‘
Tidak peduli berapa banyak aku mencoba
Dirimu tidak akan pernah tahu betapa sakitnya
Karena aku terlalu besar untuk menangis
lagu lagu berwajah pucat melata dibawah langit pasti.lelaki ini dengan berjalan menundukkan kepala, mengikuti jalan setapak yang membelah kepalamu. sejak mulai ia ingin segera bercerita kepadamu. musim memungut dan mengemasi jejaknya. bayangan awan menetas di wajahnya yang layu renta serupa kisah-kisah yang diam diam bersiap mengkhianatinya. kisah malam bulan, kisah siang hujan.

hal itu aib, ia mungkin tengah menceritakan kengerian yang sedang dilihatnya. yang sedang mencekiknya. dari suaranya, sungguh kau bisa mendengar hutan belum lagi merambat jauh meninggalkan rambutnya. kau bisa mendengar matahari menyangga tubuhnya, gunung terlentang di hadapanya, malam mengeram dalam perutnya. kau bahkan bisa mendengar warna muram yang pecah di kakinya dan pelan-pelan mengurungnya. pun bisa saja, yang kau dengar adalah dirinya yang bersedih. mungkin sebab bumi adalah ranjang yang sepi. mungkin sebab disana, tak siapapun bersuara.
mencari jawaban tanpa pertanyaan
pikiranku adalah perjalanan keabadian
terus bergerak menembus ketidaktahuan
dimana hal ini terus mengalir tanpa bisa kukendalikan
melewati pikiran lain yang telah mencapai pencerahan

mengikuti jalan sendiri dan berusaha untuk tidak tertipu
hingga akhirnya tercapai bahwa pikiran ini memang tak mau berhenti
untuk melakukan dengan diri sendiri adalah satu-satunya cara
melihat dunia ini apa adanya
melihat rasa sakit, penderitaan dan benci
maka kan kau temukan semua itu melalui dirimu
menyadari pada akhirnya kita semua mengalami nasib yang sama